Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2015

Pendidikan di Pesantren




            Bandungan berasal dari kata ngabandungan yang berarti "memperhatikan" secara seksama atau "menyimak". Bandungan (bandongan atau wetonan merupakan metode utama sistem pengajaran di lingkungan pesantren. Kebanyakan pesantren, terutama pesantren-pesantren besar menyelenggarakan bermacam-macam kelas bandungan (halaqoh) untuk mengajarkan mulai kitab-kitab elementer sampai tingkat tinggi, yang diselenggarakan setiap hari (kecuali hari Jumat), dari pagi buta setelah shalat shubuh sampai larut malam.
Pengajian pesantren sistem bandongan / wetonan adalah sistem transfer keilmuan atau proses belajar mengajar yang ada di pesantren salaf di mana kyai atau ustadz membacakan kitab, menerjemah dan menerangkan. Sedangkan santri atau murid mendengarkan, menyimak dan mencatat apa yang disampaikan oleh kyai. Kelompok kelas dari sistem bandongan ini disebut halaqah yang artinya sekelompok siswa yang belajar dibawah bimbingan seorang guru.
Pada  kebanyakan pesantren salafi (tradisional), metode klasik kegiatan belajar mengajarnya terdiri dari dua bentuk, yakni 1) Sorogan, dan 2) Bandungan (Sunda; di Jawa dikenal dengan istilah bandongan atau wetonan). Sistem sorogan disebut pula dengan sistem individual (individual learning). Sedangkan, sistem bandungan (bandongan atau wetonan) disebut pula dengan sistem kolektif (collectival Learning atau together learning). 

Sistem Sorogan
        Sistem sorogan adal sistem membaca kitab secara individul, atau seorang murid nyorog (menghadap guru sendiri-sendiri) untuk dibacakan (diajarkan) oleh gurunya beberapa bagian dari kitab yang dipelajarinya, kemudian sang murid menirukannya berulang kali.  Pada prakteknya, seorang murid mendatangi guru yang akan membacakan kitab-kitab berbahasa Arab dan menerjemahkannya ke dalam bahasa ibunya (misalnya: Sunda atau Jawa). Pada gilirannya murid mengulangi dan menerjemahkannya kata demi kata (word by word) sepersis mungkin seperti apa yang diungkapkan oleh gurunya. Sistem penerjemahan dibuat sedemikian rupa agar murid mudah mengetahui baik arti maupun fungsi kata dalam suatu rangkaian kalimat Arab.
      Dengan cara sistem sorogan, setiap murid mendapat kesempatan untuk belajar secara langsung dari kyai atau pembantu kyai. Sorogan memungkinkan sang kiai dapat membimbing,mengawasi, menilai kemampuan murid. Ini sangat efektif guna mendorong peningkatan kualitas murid. Dari segi ilmu pendidikan modern, metode ini disebut metode independent learning, karena, antara santri dan kiai saling mengenal erat, kyai menguasai benar materi yang harusdiajarkan, dan murid akan belajar dan membuat persiapan sebelumnya, antara kyai dan santri dapat berdialog secara langsung mengenai materi.
    Sistem ini biasanya diberikan dalam pengajian kepada murid-murid yang telah menguasai pembacaan QurĂ¡n. Dalam sistem tersebut, murid diwajibkan menguasai cara pembacaan dan terjemahan secara tepat, dan hanya boleh menerima tambahan pelajaran bila telah berulang-ulang mendalami pelajaran sebelumnya. Sistem sorogan inilah yang dianggap fase yang tersulit dari sistemkeseluruhan pengajaran pesantren, karena di sana menuntut kesabaran kerajinan, ketaatan dan disiplin pribadi dari sang murid sendiri.  Murid seharusnya sudah paham tingkat sorogan ini sebelum dapat mengikuti pendidikan selanjutnya di pesantren. Sistem sorogan juga digunakan di ponpes tetapi biasanya hanya untuk santri baru yang memerlukan bantuan individual.
     Di sini banyak murid yang tdk menyadari bhw sebenarnya mrk hrs mematangkan diri dalam metode tsb sebelum dapat mengikuti sistem lainnya. Sebab pada dasarnya murid yang telah menguasai sistem sorogan inilah yang dapat memetik manfaat keilmuan dari sistem bandongan di pesantren.

Sistem Bandungan
         Bandungan berasal dari kata ngabandungan yang berarti "memperhatikan" secara seksama atau "menyimak". Bandungan (bandongan atau wetonan merupakan metode utama sistem pengajaran di lingkungan pesantren. Kebanyakan pesantren, terutama pesantren-pesantren besar menyelenggarakan bermacam-macam kelas bandungan (halaqoh) untuk mengajarkan mulai kitab-kitab elementer sampai tingkat tinggi, yang diselenggarakan setiap hari (kecuali hari Jumat), dari pagi buta setelah shalat shubuh sampai larut malam.
          Sistem bandungan adalah sistem transfer keilmuan atau proses belajar mengajar yang ada di pesantren salaf di mana kyai atau ustadz membacakan kitab, menerjemah dan menerangkan. Sedangkan santri atau murid mendengarkan, menyimak dan mencatat apa yang disampaikan oleh kyai. Dalam sistem ini, sekelompok murid mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, dan menerangkan buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Kelompok kelas dari sistem bandongan ini disebut halaqah yang artinya sekelompok siswa yang belajar dibawah bimbingan seorang guru. Penyelenggaraan kelas bandungan dapat pula dimungkinkan oleh suatu sistem yang berkembang di pesantren di mana kyai seringkali memerintahkan santri-santri senior untuk mengajar dalam halaqah. Santri senior yang mengajar ini mendapat titel ustad (guru).
        Sistem bandungan (bandongan atau wetonan) dibangun di atas filosofis, bahwa 1) pendidikan yang dilakukan secara berjamaah akan mendapatkan pahala dan berkah lebih banyak dibandingkan secara individual, 2) pendidikan pesantren merupakan upaya menyerap ilmu dan barokah sebanyak-banyaknya, sedangkan budaya "pasif" (diam dan mendengar) adl sistem yang efektif dan kondusif untuk memperolah pengetahuan tersebut. 3) pertanyaan, penambahan, dan kritik dari sang murid pada kyai merupakan hal yang tidak biasa atau tabu, agar tidak dianggap sebagai tindakan su' al-adab (berakhlak yang tidak baik). Dlm sistem ini sekelompok murid (antara 5 sampai 500) mendengarkan seorang Guru/Kiai yang membaca,
menerjemahkan,menerangkan dan seringkali mengulas buku-buku Islam dalam bahasaArab. Setiap murid memperhatikan buku/ kitabnya sendiri dan membuatcatatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata-kata atau buah pikiran yang sulit. Kelompok kelas dari sistem bandongan ini disebuthalaqah yang artinya lingkaran murid, atau sekelompok santri yang belajar di bawah bimbingan seorang guru. Metode pengajaran bandungan ini adalah metode bebas, sebab tidak ada absensi santri, dan tidak ada pula sistem kenaikan kelas. Santri yang sudah menamatkan sebuah kitab boleh langsung menyambung ke kitab lain yang lebih tinggi dan lebih besar.
       Ada dua macam bentuk materi kitab kuning, yaitu (1) Bentuk nadzm, yang ditulis dalam ritme syair (2) Bentuk essai (natsr) uraian-uraian masalah. Bentuk yang kedua sering merupakan komentar terhadap matn (original text), baik yang berupa essai (natsr) maupun nadzm, seperti kitab syarh (commentaries) Ibnu 'Aqil terhadap Alfiah, oleh Ibnu Malik, atau berupa essai yang diikuti oleh syawahid (bukti-bukti teoritis) yang ditulis dalam bentuk nadzm, atau tanpa keduanya. Dalam mengajarkan kitab yang di dalamnya ada nadzm, baik yang berfungsi sebagai matn ataupun syawahid, Kiai ataupun Guru menyuruh santri menghafalkan nadzm-nadzm yang ada, kemudian melafalkan tanpa membaca bersama-sama dengan lagu sesuai dengan bahr (aturan nada dan ritme syair Arab) yang ada setiap kali pengajian akan dilanjutkan.

Sistem Musyawarah atau Munadzarah 
         Pada beberapa pesantren salafiyah yang besar berkembang pula sistem musyawarah atau munadzarah. Para asatidz (guru-guru) ini dapat dikelompokkan ke dalam kelompok yunior (ustad muda), dan yang senior, mereka menjadi anggota kelas musyawarah. Satu dua ustad senior yang sudah matang dengan mengajarkan kitab-kitab besar akan memperoleh gelar kiai muda. Dalam kelas musyawarah sistem pembelajaran berbeda dengan sistem bandongan atau sorogan. Di sini para santri harus mempelajari sendiri kitab-kitab yang ditunjuk. Kiai memimpin sendiri kelas musyawarah seperti dalam forum seminar dan terkadang lebih banyak dalam bentuk tanya jawab, biasanya hampir seluruhnya diselenggarakan dalam wacana kitab klasik. Wahana tersebut merupakan latihan bagi santri untuk menguji keterampilan dalam menyadap sumber-sumber argumentasi dalam kitab-kitab Islam klasik.

Jumat, 13 Maret 2015

10 Muharrom



`Berharap Hidayah Ilahi Robbi`

musa adalah orang paling beruntung saat ini, beliau dapat lari dari kepungan pasukan fir`aun dan para tentaranya. cara yang dilakukan juga terkesan tidak biasanya, yaitu dengan melewati lautan --laut merah-- yang terbelah dengan sentuhan tongkatnya. kejadian ini kini sangat menggigilkan tiga kelompok besar penerima tugas-tugas Ilahiyah, Islam, Nasrani, dan Yahudi. ketiga kelompok agama memperingati kejadian tersebut dengan berpuasa pada hari itu.
peringatan yang telah berabaf-abad lalu dilakukan memanifestasikan gerombolan-gerombolan agama itu terus bersikeras memperebutkan kekuasaan preogratif di daerah masjid Aqsho dan sekitarnya, bahkan sampai kini dapat kita lihat polemik tentang ketegangan otot tersebut. Israel sebagai lambang negara Yahudi menginjak negara palestina yang dikondisikan sebagai semut kecil yang tak patut hidup sejajar dengan manusia lainya.

`peringatan puasa 10 asyuro` ditekankan bagi Muslim dan diletakkan sebagai puasa dengan derajat kedua setelah puasa Romadlon, karena anggapan bahwa Islam lebih berhak tehadap peringatan itu dibandingkan gerombolan agama lainya`.
secara naluriah manusia sering terjebak pada hal-hal yang bersifat materi, perebutan masjid aqsho adalah hal besar yang dapat ditengarahi sebagai perebutan materi yang gagah dan penuh janji-janji kedamaian, padahal gak banget kan?? namun saling tusukl menusuk ego semakin kentara, bahkan ada yang bilang bahwa dengan masjid aqsho ada dalam kekuasaan kita, maka akan meninggikan gengsi agama yang menguasai.
entahlah, esensi seakan hanya bayang-bayang materi, esensi tak banyak disadari, malah banyak manusia yang kehilangan esensi karena mempeributkan hal-hal yang bersifat `materi` dari orang lain, lucu banget kan, padahal mau jungkir balik gimanapun rasa spritual --keimanan-- tidak selalu berhubungan dengan keindahan dan kejelekan materi.
so.., boleh perang
dan teruslah menghujamkan bom untuk tembok-tembok yang mengganggu..
jikalau kau tetap menuhankan Materi sebagai penggiringmu...!
lantas beranjaklah...
karena menyadari bahwa tidak kekuatan kecuali darinya.. butuh waktu...
pelan-pelanlah melangkah, karena SUNGGUH --jika kita mencoba sadar diri-- bila didasari semangat TAUHID (mengesakan Dia) tidak ada suatupun yang cukup etis kita banggakan.
terima kasih Muhammad kau telah menuntunku memahami bahwa penyerahan diri adalah kesuksesan yang tiada tara... terima kasih Muhammad dan segenap tentara-tentaraMu. penghargaan tertinggi untukMu dari aku yang selalu mengharapkan kecupanMU, cup!

Kamis, 19 Mei 2011

Otak; antara Agama dan Sains


Ilmu pengetahuan berkembang sesuai dengan keberadaan manusia dan kekinian. Dalam agama Islam, kita yakin bahwa ilmu agama (Naqliyah) merupakan sumber dari ilmu pengeahuan lain, karena ilmu agama bersifat mutlak. Ilmu agama bersifat normatif tekstual dan teological klasik yang meyakini kebenaran sebagai kebenaran tuhan dan tidak perlu diragukan lagi.
         Berbeda dengan sains, merupakan imu berdasarkan fakta, logika, dan mendasarkan perkembangan kepada apa yang dilihat, diukur dan dapat dibuktikan. Sains bersifat positivis, empiris, dan rasional. Sains berpijak pada rasio manusia pada saat itu sehingga kebenaranya bersifat relatif. Baik ilmu agama maupun sains berkembang mempunyai tujuan sama, yaitu meningkatkan harkat dan martabat manusia.